Kaabah Para Penduduk Langit, Baitul Makmur

Kaabah Para Penduduk Langit, Baitul Makmur
Gambar hiasan: Baitul Makmur, Kaabah Para Penduduk Langit

Kaabah Para Penduduk Langit, Baitul Makmur

Anda dapat menemukan nama Baitul Makmur di dalam Alquran, sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:

"dan demi Baitul Ma'mur," [QS. Aţ-Ţūr ayat 4]

"dan atap yang ditinggikan (langit)," [QS. Aţ-Ţūr ayat 5]

"dan laut yang di dalam tanahnya ada api," [QS. Aţ-Ţūr ayat 6]

Lalu, apa yang dimaksud dengan Baitul Ma'mur itu? bahkan Allah menjadikan Baitul Ma'mur sebagai sumpah-Nya sebagaimana yang tertulis dalam surat Aţ-Ţūr ayat 4 tadi. Jadi, apa itu Baitul Ma'mur?

Baitul Ma'mur juga terdapat dalam hadits Rasulullah SAW, pada saat beliau mengisahkan peristiwa Isra' Mi'raj beliau bersabda,

"Kami mendatangi langit ketujuh. Lalu aku mendatangi Nabi Ibrahim, aku memberi salam kepadanya dan belia menyambut, "Selamat datang putraku, sang Nabi." Lalu aku melihat Baitul Makmur. Akupun bertanya kepada Jibril.

"Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari, tempat ini dikunjungi 70.000 Malaikat untuk melakukan shalat di sana. Setelah mereka kaluar, mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini." [HR. Bukhari 3207 & Muslim 162]

Baitul Ma'mur adalah tempat atau bangunan yang sangat mulia, ia merupakan tempat beribadah para Malaikat di langit. Seperti yang kita ketahui, makhluk yang Allah jadikan sebagai sumpah adalah makhluk yang mulia, yang menunjukkan keagungan Sang Penciptanya.

Ada beberapa pendapat mengenai Baitul Makmur, antara lain:

Rumah di langit yang tertinggi di dekat 'Arsy, disifati dengan 'makmur' karena banyaknya yang melakukan tawaf dari golongan malaikat
Baitullah Al-Haram (Ka'bah) yang di penuhi oleh jemaah haji yang thawaf dan i'tikaf
Baitul Makmur dengan menggunakan "Lam ta'rif Al-Jinsi". Seakan-akan Allah bersumpah dengan rumah-rumah (misalnya Ka'bah) yang diramaikan/dimakmurkan dan bangunan-bangunan yang terkenal.

Baitul Makmur adalah Ka'bahnya para penghuni langit, Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menjelaskan tafsir ayat di atas, beliau mengatakan,

"Baitul makmur itu adalah ka’bah bagi penghuni langit ketujuh. Untuk itu, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Nabi Ibrahim 'alahis salam menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur. Karena beliau yang membangun Ka'bah di bumi, dan balasan sejenis dengan amal. [Tafsir Ibnu Katsir, 7/428]

Selain itu, Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah juga berkata,

"Dari Ibnu Abbas: ia adalah rumah yang disekitar 'Arsy yang dimakmurkan oleh para malaikat. 70.000 malaikat shalat di situ setiap hari kemudian mereka tidak akan kembali. Demikian juga pendapat Ikrimah, Mujahid dan banyak para salaf." 

Baitul Makmur adalah bangunan yang sangat mulia, ia sejajar dengan Ka'bah di bumi. At-Thabari meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu tentang Baitul Makmur.

Ali Radhiyallahu 'anhu menjawab,

"Itu adalah bangunan di langit, sejajar dengan Ka'bah. Kemuliaan bangunan ini di langit sebagaimana kemuliaan Ka'bah di bumi. Setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat, dan mereka tidak kembali lagi. [Tafsir at-Thabari 22/455 dan dishahihkan al-Albani].

At-Thabari juga menyebutkan riwayat yang mursal dari Qatadah (ulama tabi'in), beliau mengatakan,

"Sampai kepada kami informasi bahwa satu hari, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda di hadapan para sahabatnya, "Tahukah kalian, apa itu Baitul Makmur?" jawab beliau, "Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu."

Lalu beliau menjelaskan, "Baitul Makmur adalah bangunan masjid di langit, tepat di bawahnya adalah Ka'bah. Andai masjid ini jatuh, dia akan jatuh di atas Ka'bah." [Tafsir at-Thabari 22/456. Riwayat ini juga dikutip Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, 7/429].

Mengingat begitu mulianya bangunan ini, maka kita dilarang untuk menamai sebuah bangunan, rumah, tempat, atau bangunan apapun bahkan menamai masjid dengan nama Baitul Makmur adalah tidak boleh. 

Batu neraka : Batu Dari Burung Ababil

Batu neraka : Batu Dari Burung Ababil

Kisah Batu Neraka: Batu dari Burung Ababil

Kisah tentang Batu Neraka yang dijatuhkan oleh burung Ababil adalah salah satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam, yang berlaku sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan hanya menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah, tetapi juga menjadi tanda perlindungan Allah terhadap Kaabah, rumah-Nya yang suci di Makkah. Dalam artikel ini, kami akan mengulas dengan lebih terperinci tentang peristiwa ini dan bagaimana ia dijelaskan dalam Al-Quran dan hadis sahih.

Latar Belakang Peristiwa

Pada zaman dahulu, terdapat seorang panglima dari kerajaan Yaman bernama Abrahah. Abrahah membina sebuah gereja besar di Yaman yang dikenali sebagai Al-Qullays, dengan harapan agar orang-orang Arab berhenti mengunjungi Kaabah di Makkah dan mula mengunjungi gereja tersebut. Namun, orang-orang Arab tetap memuliakan Kaabah sebagai tempat ibadah utama mereka. Kecewa dengan kegagalan ini, Abrahah memutuskan untuk menghancurkan Kaabah.

Abrahah kemudian mengumpulkan sebuah tentera besar, termasuk gajah-gajah yang kuat, dengan tujuan untuk menyerang dan meruntuhkan Kaabah. Setelah bersiap sedia, Abrahah berangkat dengan tentera besar untuk menuju Makkah.

Namun, Allah SWT mempunyai perancangan lain. Dengan izin-Nya, Allah mengirimkan burung-burung Ababil yang membawa batu dari neraka untuk melindungi Kaabah dari serangan Abrahah dan tenteranya.

Burung Ababil dan Batu Neraka

Dalam Surah Al-Fil (Surah 105), Allah SWT menceritakan peristiwa ini dengan jelas. Surah Al-Fil terdiri daripada lima ayat yang menggambarkan bagaimana Allah melindungi Kaabah dengan menghantar burung-burung Ababil:

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap tentera bergajah?
Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia?
Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong,
Yang melemparkan kepada mereka batu dari neraka (jihat)
Maka mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat."
(Rujukan: Al-Quran, Surah Al-Fil, 105:1-5)

Dalam ayat-ayat tersebut, Allah mengisahkan bagaimana tentera Abrahah yang datang dengan kekuatan besar itu dihancurkan oleh burung Ababil yang membawa batu dari neraka. Batu-batu yang dijatuhkan oleh burung-burung ini sangat panas dan membakar tentera Abrahah. Setiap batu yang dijatuhkan menyebabkan mereka mengalami kemusnahan yang besar, dan mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat, hancur dan tidak bernyawa.

Hadis tentang Peristiwa Ababil

Peristiwa ini juga disebutkan dalam beberapa hadis sahih yang menceritakan tentang kebesaran dan keajaiban Allah dalam melindungi Kaabah. Dalam salah satu hadis sahih, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tidakkah kamu mengetahui bahwa Kaabah tidak dapat dihancurkan, kerana Allah telah menjadikan ia sebagai tempat yang dilindungi?”
(Rujukan: Sahih al-Bukhari)

Hadis ini mengingatkan umat Islam bahawa Kaabah adalah rumah Allah yang dilindungi dengan kehendak-Nya, dan tiada kuasa manusia yang dapat merosakkan atau menghancurkannya. Allah berjanji untuk sentiasa melindungi Kaabah dari ancaman musuh-musuh-Nya.

Kekuatan Batu Neraka

Batu yang dijatuhkan oleh burung Ababil dianggap sebagai batu dari neraka. Batu-batu ini sangat panas dan dibentuk dari tanah liat yang teramat panas, yang mampu membakar segala yang terkena. Tentera Abrahah yang kuat dan bersenjata lengkap itu akhirnya tidak dapat bertahan dengan serangan dari batu-batu ini. Peristiwa ini merupakan tanda kebesaran dan kuasa Allah yang tidak dapat dicabar oleh mana-mana makhluk.

Allah dengan izin-Nya mampu mengalahkan tentera yang sangat besar dan berkuasa hanya dengan menggunakan burung-burung kecil dan batu-batu panas dari neraka. Ini menunjukkan bahawa segala kekuatan di dunia ini adalah milik Allah, dan tiada siapa yang dapat menandingi kekuasaan-Nya.

Kesan dan Hikmah dari Peristiwa ini

Peristiwa ini mengandungi banyak pengajaran dan hikmah yang dapat diambil oleh umat Islam. Antara pengajaran utama yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah:

  1. Kekuasaan Allah yang Tidak Terbatas: Peristiwa ini mengingatkan kita bahawa segala kekuatan di dunia ini adalah milik Allah. Walaupun tentera Abrahah datang dengan kekuatan besar, mereka tidak dapat mengalahkan kekuasaan Allah yang Maha Besar.

  2. Pelindung Kaabah: Kaabah adalah rumah Allah yang suci, dan Allah telah menjadikannya tempat yang dilindungi daripada ancaman musuh-musuh-Nya. Walaupun terdapat cubaan untuk menghancurkannya, Allah akan sentiasa melindungi Kaabah.

  3. Tanda Kebesaran dan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Peristiwa ini berlaku pada tahun yang sama dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tahun ini dikenali sebagai "Amul-Fil" (Tahun Gajah), yang menunjukkan bahawa peristiwa besar ini adalah tanda kebesaran Allah yang akan membawa Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir-Nya untuk membawa wahyu dan petunjuk kepada umat manusia.

  4. Perlunya Tawakal kepada Allah: Umat Islam diajar untuk meletakkan tawakal kepada Allah dalam menghadapi segala cabaran dan ujian hidup. Walaupun kelihatan mustahil untuk mengalahkan musuh yang besar, dengan bantuan dan izin Allah, segala sesuatu adalah mungkin.

Penutup

Kisah Batu Neraka yang dihantar oleh burung Ababil untuk melindungi Kaabah adalah salah satu peristiwa yang membuktikan kekuasaan dan kebesaran Allah. Peristiwa ini bukan hanya menunjukkan perlindungan Allah terhadap rumah-Nya, tetapi juga mengingatkan umat Islam tentang pentingnya tawakal kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan. Dengan peristiwa ini juga, umat Islam diingatkan bahawa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan selalu memberikan pertolongan-Nya dalam keadaan yang sukar sekalipun.

Peristiwa "Amul-Fil" juga menandakan permulaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang akan membawa wahyu terakhir kepada umat manusia. Kisah ini sepatutnya menjadi pengajaran dan motivasi kepada umat Islam untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah, menjaga kesucian Kaabah, dan terus beriman serta bertawakal kepada-Nya dalam segala keadaan.

Kisah Hajarul Aswad

Kisah Hajarul Aswad

Kisah Hajarul Aswad: Batu yang Disucikan

Hajarul Aswad adalah salah satu simbol penting dalam sejarah Islam. Batu hitam yang terletak di sudut Kaabah ini bukan sahaja menjadi penanda arah bagi jemaah haji yang bertawaf, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan spiritual yang mendalam. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri kisah asal-usul Hajarul Aswad, peristiwa peletakannya, serta pengajaran yang dapat diambil daripadanya.

Asal-usul Hajarul Aswad

Hajarul Aswad dipercayai merupakan batu yang diturunkan oleh Allah dari syurga sebagai penanda yang disucikan. Ketika Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Nabi Ismail a.s. membina Kaabah, mereka mengalami banyak kesulitan dalam proses pembinaannya. Salah satunya adalah kekurangan batu untuk disusun di Kaabah. Nabi Ibrahim a.s. kemudiannya memerintahkan Nabi Ismail a.s. untuk mencari batu yang sesuai. Dalam perjalanan mencari batu, Nabi Ismail a.s. bertemu dengan malaikat Jibril a.s. yang membawa batu yang sangat cantik. Batu ini akhirnya dikenal sebagai Hajarul Aswad.

Dalam hadis riwayat al-Tirmidhi dan Ibn Majah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Hajarul Aswad adalah batu yang Allah turunkan dari syurga, ia lebih putih dari susu, tetapi dosa-dosa anak-anak Adamlah yang menjadikannya hitam." (Hadis riwayat al-Tirmidhi)

Peristiwa Peletakan Hajarul Aswad

Seiring berjalannya waktu, Kaabah mengalami kerosakan akibat banjir besar yang melanda Makkah. Banjir ini menyebabkan dinding-dinding Kaabah retak dan perlu diperbaiki. Orang-orang Quraisy pun memutuskan untuk membaiki Kaabah, namun mereka menghadapi dilema besar ketika tiba masanya untuk meletakkan Hajarul Aswad di tempatnya. Perselisihan mengenai siapa yang berhak meletakkan batu tersebut hampir menimbulkan peperangan antara suku-suku Quraisy.

Untuk menyelesaikan masalah ini, mereka membuat keputusan bijak dengan menyerahkan keputusan kepada orang yang pertama kali memasuki kawasan Shafa pada keesokan harinya. Orang yang pertama kali muncul adalah Rasulullah SAW, yang terkenal dengan gelaran Al-Amin (yang dipercayai). Ketika beliau melihat keadaan mereka, Rasulullah SAW meminta kain besar dan meletakkan Hajarul Aswad di atas kain tersebut. Setiap ketua suku diminta memegang hujung kain itu, dan bersama-sama mereka membawa batu tersebut ke tempat asalnya.

Dengan kebijaksanaan Rasulullah SAW, perselisihan ini akhirnya diselesaikan tanpa sebarang pertumpahan darah. Peristiwa ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan Rasulullah SAW di kalangan masyarakat Mekah sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.

Hajarul Aswad dalam Islam

Hajarul Aswad bukan hanya sekadar batu, tetapi ia memiliki makna yang mendalam dalam agama Islam. Batu ini merupakan penanda penting bagi jemaah haji ketika mereka bertawaf mengelilingi Kaabah. Menyentuh atau mencium Hajarul Aswad adalah amalan sunat yang dilakukan oleh jemaah haji yang menunaikan ibadah haji dan umrah.

Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, berkata:

"Apabila kamu mendekati Hajarul Aswad, maka ciumlah batu itu. Sesungguhnya ia adalah batu yang diambil dari syurga." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pengajaran dari Kisah Hajarul Aswad

  1. Keadilan dan Kebijaksanaan Rasulullah SAW: Dalam menyelesaikan perbalahan antara suku-suku Quraisy, Rasulullah SAW menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan yang luar biasa. Walaupun pada masa itu beliau masih muda dan tidak memiliki kuasa politik, masyarakat Quraisy menghormati beliau kerana kejujuran dan kebijaksanaannya.

  2. Menjaga Kesucian dan Kehormatan Kaabah: Kaabah dan Hajarul Aswad adalah simbol kesucian dalam Islam. Jemaah haji yang mencium Hajarul Aswad seharusnya melakukannya dengan penuh rasa hormat dan tawadhu', mengingat bahawa batu ini adalah tempat yang telah diberkati oleh Allah.

  3. Keutamaan Tawaf dan Doa: Di samping mencium Hajarul Aswad, setiap jemaah yang bertawaf di Kaabah disarankan untuk berdoa dan memohon kepada Allah. Salah satu tempat yang mustajab doa adalah di sekitar Kaabah, terutama berhampiran Hajarul Aswad.

Rujukan Hadis dan Surah

  1. Hadis:
    • Dari al-Tirmidhi dan Ibn Majah: "Hajarul Aswad adalah batu yang Allah turunkan dari syurga, ia lebih putih dari susu, tetapi dosa-dosa anak-anak Adamlah yang menjadikannya hitam."
    • Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim: "Apabila kamu mendekati Hajarul Aswad, maka ciumlah batu itu. Sesungguhnya ia adalah batu yang diambil dari syurga."
  2. Surah Al-Baqarah (2:158): "Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang melakukan haji atau umrah, maka tidak ada dosa baginya untuk berjalan di antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan dengan ikhlas, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."

Kesimpulan

Kisah Hajarul Aswad dan peristiwa peletakannya di Kaabah menunjukkan betapa besar peranan Rasulullah SAW dalam menjaga keharmonian dan keadilan dalam masyarakat. Batu ini bukan hanya menjadi penanda tempat dalam ibadah, tetapi juga simbol kebesaran Allah yang harus dihormati oleh seluruh umat Islam. Setiap kali kita bertawaf di Kaabah dan mencium Hajarul Aswad, kita tidak hanya mengikuti sunnah Nabi SAW, tetapi juga merenungkan makna dan keberkatan yang terkandung dalam setiap amalan tersebut.

Translate

CLOSE