Kisah Nabi Ibrahim & malaikat Izrail


Nabi Ibrahim mempunyai sebuah rumah kecil yang khas digunakannya untuk beribadat kepada Allah. Apabila hendak keluar, rumah itu akan dikunci supaya tiada sesiapa pun yang boleh masuk dan merosakkan rumah ibadatnya itu. Bagaimanapun, suatu hari Nabi Ibrahim terkejut kerana sebaik memasuki rumahnya itu, didapati ada seorang lelaki di dalamnya.


“Siapa kamu yang berani menceroboh rumahku?” tanya Nabi Ibrahim.

“Aku dimasukkan ke dalam rumah ini oleh tuan empunya rumah ini,” jawab lelaki itu ringkas.

Nabi Ibrahim terdiam. Dia mula terfikir sesuatu. “Katakan padaku, adakah kamu ini malaikat?”

Lelaki tersebut menjawab pertanyaannya, “Ya… aku adalah malaikat. Malaikat Maut!”

Lantas Nabi Ibrahim bertanya, “Kalau begitu, bolehkah kamu tunjukkan kepadaku akan keadaan rupa wajahmu apabila kamu hendak mencabut nyawa orang mukmin?”

Berkata malaikat maut, “Berpalinglah kamu daripadaku buat seketika.”
Nabi Ibrahim pun memalingkan mukanya. Beberapa ketika kemudian memandang malaikat maut kembali. Alangkah terperanjatnya Nabi Ibrahim apabila melihat keindahan wajah malaikat maut itu. Wajahnya seperti orang muda, sangat tampan, memakai kain yang cukup cantik dan disaluti bau yang harum semerbak.

Kata Nabi Ibrahim, “Wahai malaikat maut, jikalau orang mukmin hanya dapat menatap wajahmu saja sebelum mereka mati, maka itu pun sudah cukup bagi mereka.

Suatu hari Nabi Ibrahim didatangi oleh malaikat maut. Nabi Ibrahim bertanya kepada Izrail adakah malaikat maut itu boleh memperlihatkan wajahnya. Dia ingin benar melihat wajah malaikat yang paling ditakuti oleh seluruh makhluk Allah itu.

“Wahai Ibrahim, kalau itu yang engkau minta, aku sedia melakukannya,” jawab Izrail.

Apabila sudah mendapat keizinan, Nabi Ibrahim bertanya lagi, “Aku minta padamu Izrail, bolehkah kau tunjukkan rupamu ketika mencabut nyawa orang yang ingkar pada perintah Allah dan berbuat zalim?”

Jawab Izrail, “Wahai Ibrahim, kini kamu berpalinglah daripada melihatku buat seketika.”

Lalu Nabi Ibrahim pun memalingkan mukanya. Seketika kemudian Nabi Ibrahim memandang kembali ke arah malaikat maut. Seketika itu juga Nabi Ibrahim melihat suatu lembaga berbentuk lelaki hitam dan rambunya keriting. Dari mulut dan lubang hidung malaikat maut itu keluar lidah api yang menjulang-julang serta asap yang bergulung-gulung.

Apabila melihat keadaan malaikat maut yang mengerikan itu, Nabi Ibrahim terus jatuh dan pengsan. Setelah Nabi Ibrahim sedar semula, Izrail pun kembali menunjukkan wajahnya yang cantik dan bersinar-sinar.

Berkata Nabi Ibrahim, “Wahai malaikat maut, kalaulah orang yang zalim itu melihat mukamu sebelum mereka mati, maka itu pun sudah memadai untuk membuat mereka bertaubat kepada Allah.”

Agaknya, bagaimanakah nanti rupa malaikat maut apabila mencabut nyawa kita setelah sampai masa kita nanti??


Kisah Pencurian Jasad Nabi Muhammad SAW


Peristiwa yang memilukan dan nyaris menampar wajah umat islam terjadi pada tahun 1164 M atau 557 H. Jasad Nabi Muhammad SAW pernah terusik dan nyaris dicuri oleh orang kafir laknatullah. Akhirnya Allah menyelamatkannya dari rencana jahat yang mengancam sang nabi tercinta.

Usaha-usaha mengambil jasad nabi dari makamnya untuk dipindah ke tempat lain sudah berkali-kali dilakukan orang, diantaranya adalah yang terjadi pada tahun 557 H (1163 M). Dikisahkan dalam kitab Fusul min Tarikhil Madinah, sebagaimana telah dicatat oleh sejarawan Ali Hafidz.

Pada tahun itu Sultan Nuruddin Mahmud Zinki yang menguasai Mesir dan Syiria terkenal sebagai raja yang saleh dan memperhatikan Islam. Pada suatu malam ketika ia tidur di istananya di Damaskus, ia mimpi bertemu Nabi Muhammad saw, sedang menudingkan tangannya ke arah dua orang berwajah Eropa, seraya berkata, “Wahai Mahmud, tolonglah aku dari dua orang ini!”.

Kemudian ia bangun dan tertegun kaget, lalu berwudhu dan shalat dua rakaat, dan tidur lagi. Ketika sudah tertidur ia melihat seperti yang ia lihat tadi, kemudian terbangun ambil air wudhu, shalat dan tidur lagi dan yang untuk ketiga kalinya, ia bermimpi seperti yang ia lihat pada yang pertama.

Tanpa menunggu pagi, saat itu juga ia panggil menterinya yang saleh dan taat beragama bernama, Jamaluddin al-Musilly. Setelah sultan cerita semua yang ia alami tadi, maka al-Musilly dengan hati-hati berkata: “Ini pasti terjadi sesuatu yang negatif di Madinah, sekarang juga kita harus ke sana dan harus kita rahasiakan dahulu peristiwa yang Sultan alami tadi”.

Malam itu juga Sultan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan dari damaskus ke madinah yang memakan waktu 16 hari, dengan mengendarai kuda bersama 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda. Sesampainya di Madinah, sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan sholat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi SAW. Sultan bertafakur dan termenung dalam waktu yang cukup lama di depan makam Nabi SAW, bingung tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Berkatalah menteri kepada Sultan: “Dapatkah tuan sultan memastikan dua orang itu kalau sekarang tuan sultan melihatnya?”. “Ya, pasti”, jawab Sultan.

Maka menteri langsung berdiri dan mengumumkan agar semua penduduk Madinah datang ke Masjid, karena sultan akan membagikan hadiah dan sedekah, jangan sampai ada yang ketinggalan. Kemudian satu-persatu penduduk Madinah datang dan dicatat di depan Sultan. Sampai pada orang yang terakhir, Sultan tidak melihat orang yang terlihat dalam mimpi. Lantas sultan bertanya: “Masih adakah yang lain?”.

Penduduk Madinah kemudian menjawab: “Memang masih ada, yaitu dua orang jamaah haji dari Maroko yang mukim disini, mereka saleh dan kaya, sering membagi sedekah dan selalu shalat berjamaah di Masjid Nabawi, mereka merasa sudah cukup tidak perlu ambil sedekah atau hadiah.

“Datangkan mereka kesini sekarang juga…..!”, perintah Sultan.

Terkejutlah Sultan ketika melihat dua orang itu persis dengan yang ia lihat dalam mimpi, lalu ia bertanya, “Dari mana asal kalian berdua?”... “Kami berdua dari Maroko, kami berdua beribadah haji dan ingin bermukim dekat makam Nabi satu tahun”, jawab mereka. “Apakah keterangan kalian dapat saya percayai…?”, desak Sultan agar mereka mengaku yang sebenarnya. Tetaplah mereka bersikeras pada keterangannya dan tidak mengakui apa yang mereka kerjakan sebenarnya.

Maka Sultan datang ke rumah yang mereka sewa (rumah dekat makam Nabi dari arah kiblat) dan sesampainya di rumah itu yang di temuinya adalah tumpukan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf al-Qur’an. Lalu sultan berkeliling ke kamar sebelah. Saat itu Allah memberikan ilham, Sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut. Masya Allah, Subhanallah.... ternyata ada lubang gua..

Semua yang melihat jadi terkejut dan Sultan memerintahkan salah satu pengikutnya untuk masuk….. dan alangkah terkejutnya….. ternyata lubang itu menuju arah bawah Masjid Nabi dan sudah menembus tembok masjid, hampir sampai tembok makam Nabi. Seketika itu juga, sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut pirang tersebut dan menghantamnya dengan sangat keras "Pluaak..Pluook".. keduanyapun jatuh tersungkur.

Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh raja Nasrani di Eropa misinya untuk mencuri jasad Nabi SAW. Pengakuan mereka adalah; 1- Mereka adalah dua orang Kristen dari Spanyol, datang ke Madinah menyamar sebagai jamaah haji dari Maroko. 2- Maksud kedatangannya adalah melaksanakan tugas suci dari Liga Kristen Internasional untuk mengambil jasad Nabi Muhammad saw dan dibawa ke Eropa. 3- Dengan menggali terowongan dan membuang tanah galian ke Baqi’ setiap malam, mereka optimis berhasil mengambil jasad nabi saw. 4- Semua biaya ditanggung oleh liga tersebut.

Pada pagi harinya, setelah mengakui semua perbuatannya mereka dihukum pancung di sebelah Timur makam Nabi saw disaksikan semua penduduk Madinah. Kerana peristiwa tersebut Sultan memerintah memperkuat bangunan makam dengan menggali sekelilingnya sedalam 15 meter kemudian dicorahkan atau dibetong dengan timah. Setelah pembangunan selesai, Sultan Mahmud dan rombongan pulang ke negeri Syam untuk kembali memimpin kerajaannya.


Kisah Nabi Ibrahim dan menantunya



SATU HARI, NABI IBRAHIM A.S DATANG ke rumah anaknya Nabi Ismail a.s... 

Ketika itu, Nabi Ismail tidak ada di rumah... Yang ada hanyalah isteri Nabi Ismail.... Baginda bertanya kepada perempuan itu tentang Nabi Ismail... Perempuan itu memberitahu bahawa Nabi Ismail keluar memburu... Apabila ditanya tentang suasana kehidupan mereka, maka perempuan itu menjawab : " KAMI HIDUP SUSAH DAN KESEMPITAN".... Nabi Ibrahim bertanya lagi : " Adakah kamu mempunyai tetamu? Adakah kamu mempunyai bekalan makanan dan minuman?"... Jawab perempuan tadi : "Kami tidak mempunyai tetamu, dan kami juga tidak mempunyai bekalan makanan dan minuman"

.... Setelah duduk sekian lama, Nabi Ibrahim yang tidak memperkenalkan dirinya siapa kepada isteri anaknya itu, berasa kurang senang dengan sikap dan perilaku isteri anaknya itu... Lalu baginda meminta diri dan berpesan, "KHABARKAN KEPADA SUAMIMU BAHAWA ADA SEORANG TUA DATANG, rupanya begini dan begini, dan khabarkan kepada suamimu bahawa ORANG TUA TERSEBUT TIDAK MENYUKAI ALANG PINTU RUMAH INI... MINTA DITUKAR SEGERA."..... 

Apabila Nabi Ismail pulang, isterinya pun menceritakan tentang perihal "orang tua" tersebut dan menyampaikan pesannya.... Nabi Ismail lantas bersuara, "ITU ADALAH AYAHKU NABI IBRAHIM, dan ternyata DIA TIDAK SENANG DENGAN PERILAKU KAMU.... Maka kamu aku ceraikan pada saat ini juga."

... Tidak lama kemudian, Nabi Ismail berkahwin lain, dan sekali lagi Nabi Ibrahim datang berziarah.... ketika Nabi Ismail juga tiada di rumah, dan hanya tinggal isterinya sahaja.... Kemudian baginda bertanya mengenai kehidupan mereka berdua, lalu perempuan itu menjawab : "KAMI BERADA DALAM KEADAAN BAIK DAN BAHAGIA"... SAMBIL ITU DIA MEMUJI-MUJI ALLAH... 

Setelah duduk sekian lama, Nabi Ibrahim yang juga kali ini tidak memperkenalkan dirinya, meminta diri, lalu berkata, "SAMPAIKAN SALAMKU PADA SUAMIMU, dan khabarkanlah padanya seorang tua yang begini dan begini telah datang melawatnya.... Dan khabarkan padanya bahawa ALANG PINTU RUMAHNYA INI SEDANG ELOK SAHAJA DAN TIDAK PERLU DITUKAR."

.... Apabila Nabi Ismail yang pulang kemudiannya diberitakan tentang pesanan itu oleh isterinya, Nabi Ismail pun berkata, "ITU ADALAH AYAHKU NABI IBRAHIM, dan ternyata dia amat menyenangi kamu.... MAKA BERBAHAGIALAH WAHAI ISTERIKU."....


Air Mandian Jenazah Nabi Muhammad SAW


Kisah Yang Sangat Mengagumkan Berkenaan Syeikh Mutawalli Sya'rawi Rahimahullah 

Pada masa dahulu, suatu muktamar Islami yang menghimpunkan para ulama' muslimin telah dijalankan dalam tempoh selama seminggu. Syeikh Sya'rawi adalah di antara tokoh ulama' Mesir yang dijemput untuk meghadiri muktamar tersebut. 

Pada hari pertama muktamar, Syeikh Sya'rawi telah melihat pada diri pengerusi muktamar tersebut yang juga merupakan seorang ulama' suatu perubahan besar dari segi keilmuannya dan makrifah yang tidak ada pada masa-masa sebelumnya. Lalu, syeikh bangun menuju ke podium dan berkata, "Aku akan mengajukan suatu soalan kepada kamu dan aku inginkan jawapannya. Soalannya ialah : Ke manakah perginya air mandian jasad Rasulullah SAW?". Iaitu yang dimaksudkan beliau ialah air yang digunakan ketika dimandikan jenazah Baginda SAW. 

Akan tetapi apabila soalan itu diajukan, tidak ada sesiapa yang menjawabnya. Semua orang senyap dan berdiam diri kerana tidak tahu akan jawapannya. Pengerusi muktamar itu juga merasa sangat terkejut dengan soalan tersebut dan mengatakan dalam dirinya, "Bagaimana aku tidak mengetahui akan jawapan soalan ini?". Lalu beliau mengambil jalan keluar daripada persoalan ini dengan mengatakan, "Berikan kami peluang masa, kami akan jawab soalan kamu pada pertemuan esok insyaAllah". Maka beliau pun pulang ke rumahnya dan tidak melakukan apa-apa selain daripada terus memasuki perpustakaan khasnya untuk mencari, meneliti dan membelek kitab-kitab bagi mencari jawapan kepada persoalan itu. 

Beliau telah menghabiskan masa yang lama dalam pencariannya, hingga diselubungi keletihan dan akhirnya terlelap tidur di atas kitab yang dibacanya. Ketika mana ulama' itu tidur, Rasulullah SAW telah datang bertemunya dalam mimpi dan bersama baginda SEOrang lelaki yang memegang sebuah lampu pelita. 

Maka dengan segera beliau menuju kepada Rasulullah SAW dan bertanya, "Ya Rasulullah, ke manakah perginya air mandian jasadmu?". Lalu Baginda SAW mengisyaratkan kepada lelaki pemegang lampu pelita yang berada di sisinya (supaya menjawab soalan itu). 

Kemudian lelaki itu pun menjawab, "Air mandian Rasulullah SAW menyejat naik ke langit dan kemudian turun ke bumi dalam bentuk hujan. Setiap titisannya yang jatuh ke bumi, dibina di tempat itu masjid". Maka, terjagalah beliau daripada tidurnya dalam keadaan yang sangat gembira kerana telah mengetahui jawapan kepada persoalan tersebut. 

Keesokkan harinya, pengerusi muktamar itu hadir untuk hari kedua dan menunggu persoalan yang telah dilontarkan oleh Syeikh Sya'rawi untuk diutarakan semula. Akan tetapi syeikh tidak bertanya. Di hujung muktamar pada hari kedua, akhirnya beliau bangun dan berkata kepada syeikh Sya'rawi, "Kelmarin kamu telah bertanyakan satu soalan. Adakah kamu ingin mengetahui jawapannya?". Syeikh berkata : "Adakah kamu mengetahui jawapannya?". Beliau menjawab : "Ya". Syeikh bertanya : "Maka ke manakah perginya air mandian Rasulullah SAW?". Beliau menjawab : "Air mandian Rasulullah SAW menyejat naik ke langit dan kemudian turun ke bumi dalam bentuk hujan. Setiap titisannya yang jatuh ke bumi, dibina di tempat itu masjid". Syeikh bertanya lagi : "Bagaimana kamu mengetahuinya?". Beliau menjawab : "Rasulullah SAW telah datang kepadaku dalam mimpi (memberitahukan jawapannya)". Syeikh berkata : "Bahkan SEOrang lelaki yang memegang lampu pelita yang menjawab kepada kamu". Maka ulama' itu terus merasa terperanjat dan terpegun, lalu bertanya, "Bagaimana kamu mengetahui perkara itu?". Lalu Syeikh Sya'rawi menjawab bahawa beliaulah lelaki yang memegang lampu pelita yang berada di sisi Rasulullah SAW dalam mimpi ulama' itu. 

Peristiwa ini telah memberikan kesan yang cukup mendalam kepada para hadirin dalam muktamar tersebut dan memeranjatkan semua orang. Hal ini menunjukkan kedudukan maqam yang tinggi beliau di sisi Allah Taala dan RasulNya. ~kisah ini diceritakan sendiri oleh ulama' yang menjadi pengerusi muktamar itu.

Pemakaian Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam walaupun sebagai pemimpin dunia yang suci dan agung, namun Baginda begitu bersederhana dalam cara pemakaian dan kehidupan bagi seorang insan yang bergelar…Rasulullah 

Pakaian 

Menyukai warna hijau dan putih. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memakai Qaba’ (baju luar) dari kain sundusin. 

Pakaian yang paling digemari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam adalah ‘qamis;. Baginda juga menyukai kain ‘Hibarah’ iaitu kain keluaran Yaman yang terbuat dari kapas. 

Mempunyai dua helai pakaian khusus untuk solat Jumaat. Bagindìa sering memakai kain sarung, Qithri (selindang) dan penutup badan samada baju kemeja (qamish) atau jubah. Semua pakaian Baginda tinggi di atas kedua tapak kakinya, kadangkala setengah betis. Kemeja mengenakan kancing baju. 

Kadangkala baginda membuka kancing itu semasa solatnya. Baginda mempunyai kain selimut yang dicelup dengan kumkuma. Kadangkala mengerjakan solat dengan berselimut itu saja. 

Baginda juga memakai kain bertampal seperti cara pakaian para hamba. Adakalanya memakai kain sehelai/sarung yang tiada kain lain di atasnya. Kadangkala diikatkan kedua hujungnya di antara kedua bahunya. 

Kadangkala mengimami solat jenazah atau mengerjakan solat di rumah (umpamanya solat malam) dengan cara yang demikian. Mempunyai baju ‘aba-ah (baju terbuka depannya, dipakai di atas baju lain) yang dibentangkan/dilipat dua lapis untuk Baginda setiap kali berpindah tempat duduk. 

Mempunyai pakaian hitam tetapi disedekahkan kepada orang. Terserlah ketampanan/keputihan kulit baginda apabila memakai pakaian hitam. Kadangkala mengerjakan solat memakai ‘syamlah’ (kain bulu hitam). 

Semasa memakai pakaian baginda berdoa:- “Alhamdulillaahilladzii kasaanii maa uwaarii bihi auratii wa atajammalu bihi fin-naas (Segala pujian bagi Allah yang menganugerahkan kepadaku pakaian yang dengan pakaian itu aku menutup auratku dan aku memperelokkan diriku pada manusia)”. 

Memakai dengan memulakan sebelah kanan dan membuka pakaian dengan memulakan sebelah kirinya. Menyedekahkan pakaian lamanya kepada orang miskin – maksud sabda Baginda – diberikan kerana Allah dan dianugerahkan kebajikan selagi pakaian berkenaan menutup aurat sipenerima samada hidup atau mati. 

Cincin 

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memakai cincin dijari manis dan kelingking. Baginda tidak pernan memakai cincin di ibu jari, jari tengah dan jari telunjuk. 

Cincin Baginda diperbuat dari perak manakala permatanya dari Abessina (Habsyi). Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam adalah ‘Muhammad’ satu baris, ‘Rasul’ satu baris, dan ‘Allah’ satu baris. Sesungguhnya apabila Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam masuk ke jamban, maka ia melepaskan cincinnya. Kadangkala baginda keluar dan pada cincinnya terdapat benang terikat untuk mengingatkan baginda terhadap sesuatu. 

Baginda mengchopkan surat-surat yang dikirim dengan cincinnya supaya penerima surat berkenaan mengenali baginda. 

Serban 

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memakai ‘qalansuah’ (kupiah); dengan atau tanpa serban. Dalam urusan rasmi Baginda sering memakai serban berwarna hitam. 

Mempunyai serban as-sahab (awan) yang kemudiannya diberikan kepada Sayyidina Ali r.a. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memakai serban dengan memulakan sebelah kanan dan membukanya dengan memulakan sebelah kirinya. Sewaktu berserban, biasanya Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam melepaskan hujung serban ke belakang iaitu di antara dua belikat Baginda. 

Khuf 

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menerima hadiah sepasang khuf hitam pekat dari an-Najasyi. Iaitu setokin yang diperbuat dari kulit nipis yang dipakai di musim sejuk. Ketika memakai khuf, Baginda berwuduk hanya dengan menyapu keduanya (yakni tidak membasuh kaki). 

Sandal 

Sandal Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam diperbuat daripada kulit dan mempunyai tali qibal dikedua-dua belahnya. Baginda sering memakai sandal dengan memulainya dari yang sebelah kanan dan bila ia melepaskannya, bermula dari yang sebelah kiri. 

Senjata 

Nama pedang perang Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: Zulfaqar. Lain-lain pedang: Ak-Mikhzam, Ar-Rasub, Al-Qadlib – tangkai pedang dihiasi perak. Tali pedang dari kulit yang disamak. Tiga helai tali dari perak. 

Nama busur baginda ialah Al-Katum, tempat pananannya bernama Al-Kafur. Lain-lain Barangan Mempunyai tikar tidur dari kulit yang sudah disamak yang diisikan kulit kayu kurma yang halus. 

Panjang lebih kurang dua hasta. Lebar lebih kurang sehasta sejengkal. Baginda tidur di atas tikar yang dibawahnya tiada suatupun yang lain. Nama bendera Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam a: Al-‘Uqab. Nama untanya: Al-‘Udl-ba, nama kudanya: Al-Duldul, nama kaldainya: Ya’fur. nama kambingnya: ‘Ainah. 

Baginda mempunyai tempat bersuci dari tembikar, yang beliau berwuduk padanya dan meminum daripadanya. Maka orang banyak menghantar anak-anaknya yang kecil yang telah berakal. Lalu mereka itu masuk ke tempat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Mereka itu tiada ditolak untuk masuk ke tempat beliau. 

Apabila anak-anak itu mendapat air pada tempat bersuci tadi, lalu mereka minum. Dan menyapu mukanya dan tubuhnya dengan air tersebut. Mereka itu mencari barakah dengan yang demikian. والله أعلم بالصواب (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)